
Kalau sudah beberapa kali liburan ke Singapore, biasanya ada satu momen ketika kita mulai bingung sendiri.
“Kali ini mau ke mana lagi, ya?”
Merlion sudah pernah. Marina Bay sudah. Orchard Road mungkin malah sudah hafal. Sentosa pun bisa jadi sudah masuk itinerary dua atau tiga kali.
Akhirnya kita mulai merasa Singapore ya itu-itu saja.
Padahal sebenarnya bukan Singapore yang kehabisan tempat menarik. Kita saja yang mungkin selama ini terlalu sering mengikuti rute yang sama.
Di balik gedung-gedung modern dan tempat wisata yang sudah terkenal, masih ada banyak hidden gems Singapore yang menarik untuk dijelajahi. Ada taman yang tenang, kawasan heritage penuh cerita, jalur hijau untuk jalan santai, sampai area wetland yang suasananya jauh berbeda dari Singapore yang biasa kita lihat di media sosial.
Untuk keluarga Indonesia yang sudah pernah ke Singapore, tempat-tempat seperti ini justru bisa membuat perjalanan kedua atau ketiga terasa fresh lagi.
Dan tidak perlu mengejar semuanya.
Kalau pergi bersama anak, dua atau tiga tempat yang benar-benar dinikmati biasanya jauh lebih berkesan daripada delapan tempat yang hanya sempat didatangi untuk foto lalu buru-buru pergi.
Sedang merencanakan liburan keluarga ke Singapore? Kalau itinerary Anda mencakup beberapa lokasi dan membutuhkan mobil atau van dengan sopir, Anda bisa berkonsultasi dengan Travelincheck melalui WhatsApp 0822 8822 2920.
Beberapa hidden gems Singapore untuk keluarga yang layak masuk daftar adalah HortPark, Labrador Nature Reserve, Reflections at Bukit Chandu, Katong–Joo Chiat, Sungei Buloh Wetland Reserve, Southern Ridges, Kranji Marshes, sampai sisi lain Kampong Gelam yang sering terlewat wisatawan.
Menariknya, masing-masing menawarkan pengalaman yang berbeda.
Ada yang cocok untuk anak yang suka alam. Ada yang lebih pas untuk keluarga yang senang sejarah. Ada juga tempat yang sebenarnya tidak benar-benar tersembunyi, tetapi sering kita kunjungi terlalu terburu-buru sehingga sisi menariknya malah terlewat.
Kalau Anda mulai bosan dengan itinerary Merlion–Marina Bay–Orchard–Sentosa, beberapa tempat berikut bisa jadi inspirasi untuk trip selanjutnya.

Setelah beberapa hari keluar-masuk mal dan tempat wisata, kadang anak cuma butuh satu hal sederhana:
ruang untuk bergerak.
Di saat seperti itu, HortPark bisa menjadi pilihan yang menyenangkan.
Kawasan taman sekitar 10,7 hektare ini merupakan bagian dari jaringan Southern Ridges dan memiliki lebih dari 10 themed gardens. Area taman secara umum buka dari pukul 06.00 sampai 23.00.
Tapi alasan saya memasukkan HortPark ke daftar ini bukan hanya karena tamannya.
Di HortPark terdapat Nature Playgarden, area yang dirancang agar anak-anak usia prasekolah bisa bermain sambil berinteraksi dengan alam.
Buat orang dewasa mungkin terlihat sederhana.
Tapi coba lihat dari sudut pandang anak.
Setelah seharian diminta berjalan, antre, duduk manis saat makan, lalu ikut ke tempat yang sebenarnya lebih menarik bagi orang tuanya, akhirnya ada tempat di mana mereka bisa menjadi anak-anak lagi.
Bisa bergerak.
Bisa eksplorasi.
Tidak harus selalu mendengar:
“Ayo cepat, habis ini kita pindah tempat lagi.”
Justru momen sederhana seperti ini sering membuat mood perjalanan keluarga kembali enak.
Sekitar 1–2 jam sudah cukup kalau ingin menikmati taman dengan santai.
Kalau ingin lanjut berjalan ke bagian Southern Ridges, tentu bisa lebih lama.
Untuk keluarga dengan anak, saya lebih menyarankan datang pagi. Udara biasanya terasa lebih nyaman untuk aktivitas outdoor.
Dan jangan lupa melihat kondisi cuaca sebelum datang, terutama kalau tujuan utamanya adalah Nature Playgarden.
Kalau membayangkan Singapore, apa yang pertama muncul?
Gedung tinggi?
Marina Bay?
Mall?
Jalanan kota yang rapi?
Itu semua memang bagian dari Singapore.
Tapi coba sesekali pergi ke Labrador Nature Reserve.
Suasananya berbeda.
Ada pepohonan, jalur berjalan kaki, area pesisir, dan pemandangan laut. Rasanya seperti memberi jeda kecil dari ritme kota.
Karena tidak semua hari liburan harus penuh atraksi.
Ada hari ketika keluarga cuma ingin berjalan santai tanpa mengejar jadwal.
Labrador cocok untuk momen seperti itu.
Salah satu area menarik adalah Keppel Coastal Trail, dengan elevated boardwalk dan pemandangan ke arah laut.
Kita bisa berjalan sambil ngobrol, anak melihat lingkungan sekitar, lalu berhenti sebentar kalau mulai lelah.
Tidak ada tekanan harus menyelesaikan wahana.
Tidak ada rasa rugi karena sudah membeli tiket mahal lalu anak tiba-tiba ingin pulang.
Kadang liburan keluarga justru terasa paling nyaman ketika tidak terlalu banyak yang harus dilakukan.
Pagi atau sore biasanya lebih nyaman untuk aktivitas outdoor.
Area taman dapat diakses sepanjang hari, tetapi bagian nature reserve memiliki jam akses tersendiri, yaitu sekitar pukul 07.00–19.00.
Jadi tetap cek bagian mana yang ingin dikunjungi sebelum berangkat.
Kalau anak sudah usia sekolah, coba sesekali masukkan tempat yang bukan sekadar “tempat wisata”.
Salah satunya Reflections at Bukit Chandu.
Tempat ini mengangkat kisah Battle of Pasir Panjang dan perjuangan para anggota Malay Regiment pada masa Perang Dunia II.
Museum berada di sebuah bungalow yang memiliki hubungan erat dengan sejarah kawasan Bukit Chandu dan Pasir Panjang.
Karena perjalanan seperti ini bisa membuka obrolan yang jarang muncul kalau itinerary kita hanya berisi shopping dan foto.
Anak mungkin mulai bertanya:
“Dulu Singapore seperti apa?”
“Kenapa terjadi perang di sini?”
“Siapa yang berperang?”
Dan dari satu kunjungan singkat, perjalanan berubah menjadi pengalaman belajar.
Tidak harus seperti pelajaran sejarah di sekolah.
Baca sedikit.
Lihat artefak.
Dengarkan ceritanya.
Lalu ngobrol sambil jalan.
Untuk anak yang memang tertarik sejarah, tempat seperti ini bahkan bisa lebih berkesan daripada atraksi yang jauh lebih ramai.
Akses menuju museum cukup menanjak.
Kalau datang menggunakan MRT, perjalanan dari Pasir Panjang MRT dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pepys Road dan naik ke arah museum. Bagian terakhirnya dapat memakan waktu sekitar 15–20 menit.
Kalau membawa balita, stroller, atau bepergian bersama orang tua, ini perlu masuk pertimbangan.
Jangan sampai tempatnya menarik, tetapi semua sudah kelelahan sebelum sampai.
Ada kawasan yang tidak perlu diberi itinerary terlalu detail.
Datang saja.
Jalan.
Lihat-lihat.
Berhenti kalau menemukan sesuatu yang menarik.
Katong–Joo Chiat adalah salah satunya.
Kawasan ini terkenal dengan rumah dan shophouse Peranakan berwarna-warni, mural, bangunan heritage, dan jejak budaya Peranakan yang masih terasa sampai sekarang.
Memang, bangunan warna-warni di kawasan ini sangat fotogenik.
Tapi kalau datang bersama keluarga, jangan buru-buru setelah mendapatkan foto.
Coba berjalan sedikit lebih jauh.
Perhatikan detail bangunannya.
Cari mural bersama anak.
Berhenti untuk makan.
Biarkan perjalanan mengalir.
Anak-anak mungkin belum mengerti apa itu arsitektur Peranakan. Tapi warna bangunan, mural, dan suasana jalan biasanya membuat mereka tetap punya sesuatu untuk dilihat.
Kalau ini perjalanan kedua atau ketiga, Katong–Joo Chiat terasa pas.
Kita sudah tidak terlalu sibuk mengejar landmark.
Tidak lagi merasa wajib berfoto di semua tempat terkenal.
Akhirnya ada waktu untuk menikmati suasana sebuah kawasan, bukan hanya objek wisatanya.
Dan menurut saya, di situlah Singapore mulai terasa berbeda.
Ini mungkin salah satu tempat yang bisa membuat anak bertanya:
“Ini masih Singapore?”
Karena pemandangannya memang jauh dari gambaran Singapore yang biasanya mereka lihat.
Sungei Buloh Wetland Reserve merupakan kawasan wetland dan mangrove seluas sekitar 202 hektare. Tempat ini kaya biodiversitas dan menjadi salah satu kawasan penting bagi burung migran.
Tidak ada gedung pencakar langit yang menjadi pusat perhatian.
Yang ada justru mangrove, burung, jalur alam, dan suasana yang jauh lebih tenang.
Keluarga bisa berjalan menyusuri kawasan wetland, mengamati burung, mengenalkan anak pada ekosistem mangrove, dan melihat satwa dari jarak aman.
Kalau anak suka binatang atau alam, perjalanan seperti ini bisa sangat menyenangkan.
Apalagi kalau sebelumnya itinerary mereka penuh dengan mall dan atraksi indoor.
Tiba-tiba mereka punya pengalaman yang sama sekali berbeda.
Periode sekitar Agustus hingga April juga dikenal sebagai waktu ketika migratory waders dapat ditemukan di kawasan ini, sementara resident birds bisa dijumpai sepanjang tahun.
Sungei Buloh bukan tempat yang wajib dikunjungi semua keluarga.
Kalau anak tidak suka berjalan atau waktu liburan sangat terbatas, mungkin ada destinasi lain yang lebih cocok.
Sebaliknya, kalau keluarga memang suka alam, tempat ini layak dipertimbangkan.
Datang pagi akan terasa lebih nyaman. Gunakan sepatu yang enak untuk berjalan, bawa air minum, dan pertimbangkan membawa perlindungan dari nyamuk.
Dan satu hal penting: kalau bertemu satwa liar, nikmati dari jarak aman.
Tidak perlu didekati demi foto.
Buat keluarga yang suka berjalan kaki dan menikmati pemandangan hijau, Southern Ridges bisa menjadi pengalaman menarik.
Kawasan ini menghubungkan beberapa taman di bagian selatan Singapore, termasuk HortPark, Kent Ridge Park, Telok Blangah Hill Park, Mount Faber Park, dan kawasan di sekitarnya.
Terdengar seru?
Memang.
Tapi ada satu kesalahan yang sebaiknya dihindari:
merasa harus berjalan seluruh rutenya.
Ada jalur di kawasan Southern Ridges yang panjangnya bisa mencapai sekitar 10 km dengan waktu berjalan beberapa jam.
Kalau datang sendiri dan memang suka hiking, silakan.
Tapi kalau membawa anak, kita tidak sedang mengikuti lomba.
Pilih bagian yang paling menarik.
Nikmati.
Kalau anak mulai lelah, berhenti.
Karena satu hal yang sering dilupakan ketika membuat itinerary keluarga adalah:
Anak tidak akan mengingat berapa kilometer yang berhasil kita selesaikan.
Mereka lebih mungkin mengingat apakah hari itu menyenangkan atau melelahkan.
Kalau keluarga Anda tipe yang senang bangun pagi, memakai sepatu nyaman, membawa teropong kecil, dan mencari burung di antara pepohonan, Kranji Marshes patut dilirik.
Tempat ini cocok untuk nature walk, birdwatching, dan fotografi.
Tapi saya tidak akan bilang tempat ini cocok untuk semua orang.
Dan itu tidak masalah.
Kranji Marshes lebih cocok untuk keluarga yang:
Kalau tujuan utama trip adalah kuliner, shopping, dan atraksi anak, tidak perlu memaksakan Kranji Marshes hanya karena masuk daftar hidden gems.
Hidden gem yang bagus bukan tempat yang wajib kita datangi.
Hidden gem yang bagus adalah tempat yang cocok dengan gaya perjalanan kita.

“Lho, Kampong Gelam kan sudah terkenal?”
Betul.
Karena itu yang saya masukkan bukan sekadar Kampong Gelam sebagai destinasi.
Yang sering menjadi “hidden gem” justru cara menjelajahinya.
Banyak wisatawan datang ke kawasan ini dengan pola yang hampir sama.
Foto Masjid Sultan.
Jalan sebentar.
Makan.
Lalu pindah.
Padahal Kampong Gelam punya sejarah panjang sebagai salah satu kawasan urban tua di Singapore dan pernah berkembang sebagai area perdagangan yang ramai.
Setelah melihat Masjid Sultan, berjalanlah sedikit lebih jauh.
Masuk ke jalan-jalan di sekitarnya.
Perhatikan bangunan lama.
Cari street art.
Lihat toko-toko kecil.
Berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik.
Untuk keluarga Indonesia, kawasan ini juga cukup nyaman dimasukkan ke itinerary karena bisa sekaligus menjadi tempat istirahat dan mencari makan.
Dan ini mengingatkan kita pada satu hal:
Hidden gem tidak selalu berarti tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Kadang hidden gem adalah sisi sebuah tempat yang selama ini kita terlalu buru-buru untuk melihatnya.
Tidak ada satu itinerary yang cocok untuk semua keluarga.
Kalau membawa balita, kebutuhan Anda akan berbeda dengan keluarga yang membawa anak remaja.
Gambaran sederhananya seperti ini:
| Tempat | Cocok untuk | Estimasi Waktu | Waktu Nyaman |
|---|---|---|---|
| HortPark | Anak kecil & pecinta taman | 1–2 jam | Pagi |
| Labrador Nature Reserve | Family santai & nature | 1–2 jam | Pagi/sore |
| Reflections at Bukit Chandu | Anak usia sekolah & sejarah | 1–2 jam | Pagi/siang |
| Katong–Joo Chiat | Heritage, foto & kuliner | 2–3 jam | Pagi/sore |
| Sungei Buloh | Nature & wildlife | 2–3 jam | Pagi |
| Southern Ridges | Keluarga aktif | 2–4 jam | Pagi |
| Kranji Marshes | Nature & birdwatching | 1–2 jam | Pagi |
| Kampong Gelam | Budaya, heritage & kuliner | 2–3 jam | Sore |
Jangan memilih tempat hanya karena sedang viral.
Tanyakan dulu:
“Keluarga saya benar-benar akan menikmati tempat ini atau tidak?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menyelamatkan itinerary.
Bisa. Tapi jangan terlalu ambisius.
Ini kesalahan yang gampang sekali terjadi saat merencanakan perjalanan ke Singapore.
Karena negaranya terlihat kecil di peta, kita merasa semua tempat pasti dekat.
Akhirnya itinerary dibuat seperti lomba:
Pagi di sini.
Satu jam kemudian pindah.
Makan cepat.
Pindah lagi.
Sore masih ada tiga tempat.
Secara teori mungkin bisa.
Tapi kalau bersama anak, kenyataannya belum tentu menyenangkan.
Ada waktu berjalan kaki.
Ada toilet.
Ada makan.
Ada anak yang tiba-tiba bilang lapar padahal baru makan satu jam lalu.
Ada hujan.
Ada yang ingin duduk sebentar.
Ada juga momen ketika anak ternyata sangat menikmati satu tempat dan tidak mau buru-buru pergi.
Untuk family trip, 3–4 destinasi yang lokasinya masuk akal biasanya sudah cukup.
Misalnya ingin fokus ke area selatan:
08.30 — Berangkat dari hotel
09.00–10.30 — HortPark
10.45–12.00 — Reflections at Bukit Chandu
12.15–13.30 — Makan siang dan istirahat
14.00–15.30 — Labrador Nature Reserve
16.00–17.30 — Destinasi lain yang masih searah
18.00 — Makan malam atau kembali ke hotel
Anggap ini sebagai gambaran, bukan jadwal yang harus diikuti sampai menit terakhir.
Kalau membawa balita dan ternyata tiga tempat saja sudah membuat semua senang, itu sudah itinerary yang berhasil.
Ini mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya besar.
Misalnya pagi pergi ke Kranji.
Setelah itu ke Katong.
Kemudian kembali ke barat.
Sore menuju pusat kota.
Semua tempatnya mungkin menarik.
Tapi rutenya membuat kita menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk berpindah.
Lebih nyaman kalau destinasi dikelompokkan berdasarkan area.
Misalnya:
Selatan → Selatan → makan → Tengah
daripada:
Selatan → Timur → Barat → Tengah.
Apalagi kalau membawa anak.
Anak tidak peduli orang tuanya berhasil mencentang delapan destinasi di Google Maps.
Yang mereka tahu cuma:
“Hari ini capek banget.”
atau
“Hari ini seru.”
Kalau bisa memilih, tentu kita ingin yang kedua.
Singapore punya transportasi umum yang sangat baik.
Untuk satu atau dua tempat yang aksesnya mudah, transportasi umum bisa menjadi pilihan.
Tapi kebutuhan family trip tidak selalu sesederhana itu.
Misalnya membawa anak kecil.
Ada stroller.
Pergi bersama orang tua.
Atau ingin mengunjungi beberapa lokasi yang tersebar dalam satu hari.
Di situ kita perlu melihat transportasi bukan hanya dari sisi:
“Bisa sampai atau tidak?”
Tapi juga:
“Nyaman tidak untuk keluarga saya?”
Contohnya Reflections at Bukit Chandu. Bagian terakhir menuju museum cukup menanjak dan bisa membutuhkan sekitar 15–20 menit berjalan kaki.
Untuk pasangan muda mungkin bukan masalah.
Tapi ceritanya berbeda kalau bersama anak kecil, stroller, atau orang tua.
Begitu juga ketika ingin menuju kawasan alam seperti Sungei Buloh.
Akses tetap ada, tetapi waktu dan proses berpindah perlu dimasukkan ke itinerary.
Mobil atau van dengan sopir bisa dipertimbangkan ketika:
Bukan berarti setiap family trip wajib menggunakan private charter.
Kalau itinerary sederhana dan keluarga nyaman menggunakan transportasi umum, silakan.
Yang paling penting adalah memilih berdasarkan kondisi keluarga sendiri.
Karena transportasi yang bagus bukan sekadar yang bisa membawa kita sampai tujuan.
Transportasi yang tepat adalah yang membuat perjalanan tetap terasa seperti liburan.
Kadang memilih tempat wisatanya justru gampang.
Yang bikin bingung adalah setelahnya:
“Kalau semua tempat ini mau didatangi, rutenya bagaimana?”
Kalau mengalami situasi seperti itu, Anda bisa berkonsultasi dengan Travelincheck.
Travelincheck menyediakan mobil dan van dengan sopir di Singapore untuk kebutuhan family trip, private charter, city tour, dan airport transfer.
Sebelum konsultasi, cukup siapkan beberapa informasi:
Dari situ, perjalanan lebih mudah direncanakan sesuai kebutuhan keluarga.
Kondisi seperti ini juga kami bahas lebih detail dalam panduan transportasi liburan dengan anak dan banyak koper.
Konsultasi perjalanan Singapore melalui WhatsApp Travelincheck: 0822 8822 2920.

Ini mungkin tips paling sederhana sekaligus paling sulit dilakukan.
Kita sudah jauh-jauh ke Singapore.
Wajar ingin memanfaatkan waktu sebanyak mungkin.
Tapi “memanfaatkan waktu” tidak selalu berarti mengunjungi tempat sebanyak mungkin.
Kalau anak sangat menikmati satu taman, biarkan mereka bermain sedikit lebih lama.
Tidak apa-apa satu tempat dicoret.
Singapore masih ada untuk perjalanan berikutnya.
Beberapa hidden gems dalam artikel ini merupakan tempat outdoor.
Cek cuaca sebelum berangkat.
Bawa payung kecil, air minum, topi, dan pakaian nyaman.
Kalau kemungkinan hujan tinggi, punya satu alternatif indoor akan sangat membantu.
Itinerary keluarga sebaiknya punya ruang kosong.
Bukan:
09.00 A
10.00 B
11.00 C
12.00 D
Berikan waktu untuk makan.
Toilet.
Duduk.
Beli minum.
Atau sekadar tidak melakukan apa-apa selama 20 menit.
Percaya atau tidak, jeda-jeda kecil seperti ini sering menyelamatkan mood perjalanan.
Kalau pagi sudah berada di selatan Singapore, lanjutkan ke tempat lain yang masih masuk akal dari area tersebut.
Jangan zig-zag hanya karena ada satu tempat viral yang ingin dimasukkan.
Hujan bisa turun.
Anak bisa lelah.
Satu tempat bisa ternyata jauh lebih menyenangkan daripada perkiraan.
Jadwal bisa mundur.
Semua itu normal.
Itinerary keluarga yang baik bukan itinerary yang berjalan sempurna sesuai spreadsheet.
Itinerary yang baik adalah itinerary yang tetap menyenangkan ketika rencana berubah.
Kalau ini perjalanan pertama ke Singapore, tidak ada yang salah dengan mengunjungi Merlion, Marina Bay, Sentosa, Orchard, dan tempat-tempat populer lainnya.
Malah sebaiknya dinikmati.
Tapi kalau sudah datang untuk kedua, ketiga, atau bahkan keempat kalinya, mungkin sudah waktunya melihat Singapore dengan cara berbeda.
Bangun pagi dan pergi ke taman.
Ajak anak melihat mangrove.
Masuk ke museum kecil dan mendengarkan cerita sejarah.
Jalan santai di kawasan heritage tanpa mengejar waktu.
Cari mural.
Berhenti untuk makan ketika lapar.
Tidak perlu semuanya masuk Instagram.
Tidak perlu semuanya viral.
Karena pada akhirnya, family trip bukan tentang berapa banyak tempat yang berhasil kita datangi.
Yang akan paling diingat biasanya justru hal-hal kecil.
Anak yang senang menemukan burung.
Obrolan sambil berjalan.
Tertawa karena salah belok.
Makan sesuatu yang ternyata enak.
Atau duduk sebentar bersama-sama karena semua sudah capek.
Itulah alasan hidden gems Singapore layak dicoba.
Bukan karena tempat-tempat ini rahasia.
Tapi karena mereka memberi kesempatan untuk menikmati Singapore dengan ritme yang berbeda.
Beberapa pilihan yang menarik antara lain HortPark, Labrador Nature Reserve, Katong–Joo Chiat, Reflections at Bukit Chandu, Sungei Buloh Wetland Reserve, Southern Ridges, dan Kranji Marshes. Pilih berdasarkan usia anak, minat keluarga, lokasi, dan durasi perjalanan.
Kalau ingin keluar dari itinerary mainstream, Anda bisa mempertimbangkan Reflections at Bukit Chandu, HortPark, Labrador Nature Reserve, Kranji Marshes, atau Sungei Buloh Wetland Reserve. Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman alam dan sejarah yang berbeda dari atraksi Singapore pada umumnya.
Banyak yang cocok, tetapi tetap sesuaikan dengan usia dan minat anak. HortPark lebih menarik untuk anak yang ingin bermain dan eksplorasi, sementara Sungei Buloh cocok untuk anak yang senang alam dan satwa.
Untuk perjalanan keluarga, 3–4 tempat yang lokasinya berdekatan biasanya lebih realistis. Jangan hanya menghitung waktu berada di destinasi; masukkan juga perjalanan, makan, toilet, istirahat, cuaca, dan kondisi anak.
Anda bisa mencoba Katong–Joo Chiat untuk heritage Peranakan, HortPark dan Southern Ridges untuk suasana hijau, Labrador untuk kawasan pesisir, atau Sungei Buloh untuk pengalaman wetland dan wildlife.
Sekitar 3–4 hari sudah cukup nyaman untuk menggabungkan beberapa tempat favorit dengan destinasi baru. Kalau membawa anak kecil dan ingin perjalanan lebih santai, menambah durasi akan memberikan lebih banyak fleksibilitas.
Kelompokkan tempat berdasarkan area. Hindari berpindah dari selatan ke utara kemudian kembali lagi ke selatan pada hari yang sama. Selain jarak, perhitungkan waktu makan, istirahat, kondisi anak, dan jam operasional tempat wisata.
Bisa menjadi pilihan terutama untuk keluarga dengan anak kecil, lansia, stroller, rombongan cukup besar, atau itinerary dengan beberapa lokasi yang tersebar. Namun tidak semua perjalanan membutuhkan private charter. Sesuaikan dengan rute dan kebutuhan keluarga.
Mungkin setelah beberapa kali datang, kita merasa sudah “selesai” dengan Singapore.
Padahal belum tentu.
Mungkin yang perlu diganti bukan destinasinya.
Tapi cara kita bepergian.
Trip pertama bisa diisi landmark.
Trip kedua mulai mencari tempat baru.
Trip berikutnya?
Mungkin kita sudah tidak terlalu peduli berapa tempat yang berhasil dikunjungi.
Kita hanya ingin keluarga menikmati perjalanannya.
Kalau nanti Anda menemukan tiga hidden gems dari artikel ini yang benar-benar cocok, tidak perlu memaksakan delapan.
Pilih tiga.
Susun rute yang masuk akal.
Sisakan waktu untuk makan dan istirahat.
Lalu nikmati Singapore tanpa terus melihat jam.
Dan kalau membutuhkan mobil atau van dengan sopir di Singapore untuk family trip, city tour, private charter, atau airport transfer, Travelincheck bisa membantu menyesuaikan transportasi dengan rencana perjalanan keluarga Anda.
Konsultasikan itinerary Singapore melalui WhatsApp Travelincheck: 0822 8822 2920.
Saat ini belum ada komentar